14 Nov 2014

la(r)ut

Kosong. Menyesal. Hanya ingin diam. Hanya ingin menangis.

Entahlah, rasanya semua yang saya pupuk beberapa bulan kemarin terhapus oleh apa yang saya ucapkan hari ini. Mulutmu harimaumu. Orang bijak pernah berkata bahwa ucapkanlah apa apa yang dianggap benar atau diamlah. Dan saya.. melakukan yang sebaliknya.

Terlalu banyak omong kosong di sana dan sini. Terlalu banyak gurau tak bermakna. Terlalu banyak.

Ucapan tak akan pernah kembali pun ketika kamu meminta maaf beribu-ribu kali. Menyesal sudah tak lagi guna. Mungkin kata sesal diperuntukkan bagi pemikir larut sepertiku. Yang pada akhirnya ombak sesal membawanya tenggelam dalam palung keterpurukan.

Dan saya tidak tahu kata penetralan digunakan untuk apa dalam hal ini. Semua rasanya begitu gelap. Begitu kosong. Hanya ingin menangis. Dan menyesal.

23 Agu 2014

Di sini tidak sama dengan di sana


Kemarin, kami bertemu. Mengurai rasa rindu yang sudah satu tahun kami pendam. Tapi ada yang ganjil saat mata itu bertemu. Aku melihat sesuatu yang aneh di situ. Aku melihat orang lain yang kini menjadi prioritasmu. Aku melihat sosok itu telah menjadi segalanya bagimu. Iya, aku tahu aku tergantikan.

Ternyata bukan hanya dari mata, tapi juga dari bahasa tubuhmu. Ia menggambarkan ketidaknyamanannya padaku. Aneh rasanya melihat sosok yang dulu sangat dekat, yang dulu jika kami harus berpisah harus-ada-momen-tangis tapi sekarang berpisahpun hanya dengan senyuman dan lambaian tangan kami tak apa. Dulu kami dekat. Dulu kami berbagi tawa setiap harinya. Dulu kami saling membantu satu sama lain. Dulu ia sering memberi tahuku mana yang benar dan salah. Iya, aku tahu itu dulu.

Berat rasanya ketika aku harus menghadapi bahwa semuanya telah berubah. Prioritasmu kini bukan hanya mengubah pandanganmu terhadap kamu sendiri, tapi juga aku. Aku yang kini tidak lagi bisa melihatmu dengan cara yang sama. Aku tahu aku harus berubah sama seperti halnya kamu memerlakukanku sekarang.

Semoga, suatu saat nanti rasa janggal pandanganku terhadap dirimu akan meleleh seiring berjalannya waktu. Tapi, hai, aku rindu pandangan mata itu.

13 Jul 2014

Sudah Terbiasa


I used to take all of my problem by myself. Lalu akhirnya pusing sendiri. Haha, sudah terbiasa.
Entah, rasanya tidak terlalu mempercayai orang-orang terdekat karena dirasa mereka juga sudah sibuk dengan urusan masing-masing, dan tidak semua orang mau peduli dan mendengarkan, kan. Tidak juga mau membebani mereka dengan masalah-masalahku sementara masalah mereka saja belum selesai, dan juga tidak semua orang mampu mengerti kondisi orang lain, kan.  Egois ya pemikiranku. Maaf, tapi yah begitulah.

Sering akhirnya saya terjerembab dalam pikiran sendiri, lalu semuanya jadi masa bodoh dan terbengkalai. "Sudah hancur, biarkan saja semuanya sekalian hancur". Iya, itu pemikiranku ketika sedang pusing-pusingnya.

Sering juga saya butuh 'me time' sekedar untuk menenangkan diri. Entah pergi ke mana. Iya, lagi lagi saya egois. Maafkan saya.

Sejujurnya saya butuh teman untuk berbagi. Bukan, bukan dalam konteks lawan jenis yang mempunyai status lebih dari teman. Saya (hanya) butuh teman yang mampu mendengarkan, memberi nasihat, dan memberi solusi. Berat ya? Hoho. Selain itu saya juga butuh teman yang selalu ada, yang bisa diajak pergi tanpa arah sekedar untuk menenangkan pikiran. Apa ada orang yang se-paket-lengkap-itu? Entah.

Saya sering merasa sendirian.. Dan hal ini yang membuat saya sering melamun. Bukan maksud ingin mengeluh, tapi kadang ada saat dimana manusia rasanya ingin jadi orang lain hanya untuk melupakan beban-bebannya. Iya, kabur dari masalah memang cara paling instan. Tapi bukan begitu caranya.
Kadang, karena terlalu sering memikirkan hal-hal ini sendirian, saya jadi merusak diri sendiri. Saya jadi malas makan. Saya tau ini namanya mendzolimi diri sendiri dan saya tau ini dilarang. Tapi... ah, lagi dan lagi batin ini bertengkar. Sudah mumet, makin mumet.

Bukannya tidak bersyukur mempunyai teman. Tapi mereka punya urusan juga, dan belum tentu bisa mendengarkan keluh kesah manusia yang satu ini.

Entah sudah berapa lama saya semakin 'rusak' seperti ini. Dan entah sudah berapa lama juga saya tidak menceritakan hal-hal-yang-memang-seharusnya-diceritakan-daripada-dipendam-sendirian-ini kepada orang terpercaya. Oh iya, saya termasuk orang yang sulit menjelaskan sesuatu secara jelas, tertata, dan ringkas. Ini yang membuat saya minder karena saya takut orang lain tidak mengerti apa yang saya maksud.

Baiklah, sekian. Terima kasih, kamu yang sudah membaca. Selamat malam :)

5 Jul 2014

Terima Kasih, Sembilan Belas.


29 Juni 1995, 29 Juni 2014.
Sembilan belas tahun sudah diberi nafas oleh sang empu-Nya nafas.
Begitu banyak kejadian yang berlalu lalang, entah hanya sekedar datang atau datang lalu memberi pesan.
Begitu banyak senyum yang tercipta, pun air mata.
Begitu banyak kesalahan yang tercipta, pun penyesalan.
Sembilan belas tahun sudah berlumuran dosa. Ya Allah..

Sembilan belas tahun bukan umur jagung, pun belum bisa dibilang dewasa. Terus memperbaiki diri adalah tugasku sekarang. Bukan menghapus dosa yang lalu, hanya menambalnya dengan amalan baru. Menebus segala kesalahan dan berbagai penyesalan terdahulu. Masa di mana emosi ini terlalu meledak-ledak, masa di mana penyesuaian yang penuh penyesalan batin, masa di mana masih butuh banyak pengalaman untuk mengerti bahwa roda kehidupan terus berputar. Maafkan segala salah dan khilafku, teman..

Sembilan belas tahun sudah kepala ini merekam banyak momen indah. Bertemu dengan sosok yang ku panggil bunda.. bertemu dengan anduang (nenek), gaek (kakek) dan sanak saudara yang lainnya, bertemu dengan teman-sekaligus-inspirator-keren, bertemu dengan banyak orang yang datang lalu memberi pelajaran. Terima kasih, teman..

Sembilan belas tahun sudah kaki ini melangkah ke berbagai peristiwa berkesan dalam hidup. Entah berjalan menuju kebaikan, pun keburukan. Astaghfirullahaladzim..

Berbagai ucapan serta doa diberikan padaku pada hari itu. Sambil terus introspeksi, aku mengamininya.
Hari itu bertepatan dengan 1 Ramadan 1435 H, momen dimana orang-orang sangat menantikan datangnya bulan penuh rahmat. Senang rasanya, karena tidak semua orang dapat merasakan 'hari-nya' bertepatan dengan 1 Ramadan.
Begitu banyak doa yang terucap, begitu banyak pula kata aamiin yang ku ucap. Terima kasih, semua.. :')

***

Dari semuaaa teman-teman yang memberikan ucapan, ada beberapa yang unik. Jujur, doa doa ini bikin senyum-senyum sendiri.





dan ini pengucap yang pertama.. temen sebangku waktu kita sama sama survive di kelas 11 SMA. pernah ada konflik tapi akhirnya kita sama sama dewasa. dan gak disangka-sangka bakalan jadi orang pertama yang mendoakan :$


dengan seiringnya waktu berjalan dan doa-doa yang terus diucapkan oleh teman-teman semua, semoga Allah mendengar dan mengabulkannya. semoga semuanya juga mendapatkan apa-apa yang didoakannya untukku.
dan ini kutipan yang paling mengena yang diberikan Raudha sewaktu 29 Juni kemarin.

"Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal : tentang umurnya dalam apa yang ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa yang ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu)." (HR At-Tirmidzi)

terima kasih semua, jazakumullahu khairan katsiran.
terima kasih, sembilan belas.

**karena sibuk ujian akhir semester, maafkan saya atas postingan yang telat ini.

29 Mei 2014

untitled

hai, udah lama ya ngga nulis. sebenernya banyak hal yang terlintas di saat saat sedang sendiri, tapi sayangnya waktu yang tidak pernah berjodoh. banyak hal yang mau diceritain, banyak hal yang mau ditulis. entah tentang kejadian senang, sedih, ataupun gundah. tapi ada aja kegiatan pengalih yang bikin gw nanya sama diri sendiri "tadi mau nulis apa ya" (maaf, saya pengingat yang payah).
sering waktu tengah malem, disaat tugas tugas kuliah udah selesai, rasanya mau buka laptop terus cerita tentang kejadian yang lagi mengganggu pikiran. tapi sebelum buka laptop, akhirnya gw curhat duluan sama yang punya dunia. niatnya, setelah curhatnya sama yang punya dunia dan alam semestanya selesai, mau curhat juga sama blog. tapiii, ternyata setelah curhat tahap pertama selesai, tiba-tiba gw tenang, gw lupa sama masalah gw. dan lagi lagii gw lupa tadi mau nulis apa ya di blog -_-" entah, rasanya.. rasa bersalah, gundah, dan segala macam penyakit hati yang mengganggu pikiran menguap gitu aja. jadi ya.. kenapa gw udah jarang cerita sama blog, karena sekarang gw lagi cinta cintanya curhat sama yang punya semesta. seneng. :)

ps. tapi gw tetep berusaha buat cari waktu buat nulis lagi kok di blog. update will come soon. :D

5 Apr 2014

Anggap Saja Ini Kerikil


Ketika impianmu dicemoohkan, diejek, ditertawakan oleh orang lain...
Ketika impianmu diremehkan..

***

Beberapa minggu ini saya mengalami perdebatan dengan batin saya sendiri. Ia meminta agar pikiran menjadikannya lebih baik, lebih lurus, lebih sabar, agar lebih sehat. Saya merasa sudah waktunya berubah. Sampai pada akhirnya,  saya memutuskan untuk berjuang ke arah yang lebih baik. Bismillah semuanya ada jalan. Tidak mudah memang berjuang di lingkungan yang tidak kondusif seperti ini.

Saya tahu, setiap orang yang sedang berubah ke arah yang lebih baik akan menghadapi berbagai cobaan. Tapi yang saya tidak tahu adalah kalau perubahan itu akan ditertawai, dijadikan bahan lelucon oleh teman-temanmu sendiri. Sakit rasanya. Kala itu saya tidak dapat berbuat apa apa selain melempar senyum kepada mereka yang sedang tertawa. Saya takut semangat ini luntur. Saya takut tekad ini tergeser oleh cemoohan mereka.

Memang, tidak semua mencemooh. Beberapa dari yang lainnya terus menyemangati dari belakang. Tapi yang sering berada di sekitar saya adalah orang-orang yang menertawai, bukan yang menyemangati. Bahkan yang mirisnya, beberapa dari mereka yang menyemangati adalah orang-orang yang baru kenal satu hari. Sementara yang menertawai adalah orang-orang yang sudah beberapa bulan ini menghabiskan waktu bersama.

Kata bunda, tertawaan mereka adalah cobaan.

Terlalu banyak yang masih harus dipersiapkan.
Kadang ingin rasanya mundur. Tapi tidak mungkin rasanya kalau saya harus mundur selangkah (lagi). Ah lagi lagi batin dan pikiran ini berdebat. Tolong perkuat tekad ini Ya Allah, permudah segala jalannya.

...Karena hamba-Mu takut kerikil ini akan melunturkannya.