13 Jul 2014

Sudah Terbiasa


I used to take all of my problem by myself. Lalu akhirnya pusing sendiri. Haha, sudah terbiasa.
Entah, rasanya tidak terlalu mempercayai orang-orang terdekat karena dirasa mereka juga sudah sibuk dengan urusan masing-masing, dan tidak semua orang mau peduli dan mendengarkan, kan. Tidak juga mau membebani mereka dengan masalah-masalahku sementara masalah mereka saja belum selesai, dan juga tidak semua orang mampu mengerti kondisi orang lain, kan.  Egois ya pemikiranku. Maaf, tapi yah begitulah.

Sering akhirnya saya terjerembab dalam pikiran sendiri, lalu semuanya jadi masa bodoh dan terbengkalai. "Sudah hancur, biarkan saja semuanya sekalian hancur". Iya, itu pemikiranku ketika sedang pusing-pusingnya.

Sering juga saya butuh 'me time' sekedar untuk menenangkan diri. Entah pergi ke mana. Iya, lagi lagi saya egois. Maafkan saya.

Sejujurnya saya butuh teman untuk berbagi. Bukan, bukan dalam konteks lawan jenis yang mempunyai status lebih dari teman. Saya (hanya) butuh teman yang mampu mendengarkan, memberi nasihat, dan memberi solusi. Berat ya? Hoho. Selain itu saya juga butuh teman yang selalu ada, yang bisa diajak pergi tanpa arah sekedar untuk menenangkan pikiran. Apa ada orang yang se-paket-lengkap-itu? Entah.

Saya sering merasa sendirian.. Dan hal ini yang membuat saya sering melamun. Bukan maksud ingin mengeluh, tapi kadang ada saat dimana manusia rasanya ingin jadi orang lain hanya untuk melupakan beban-bebannya. Iya, kabur dari masalah memang cara paling instan. Tapi bukan begitu caranya.
Kadang, karena terlalu sering memikirkan hal-hal ini sendirian, saya jadi merusak diri sendiri. Saya jadi malas makan. Saya tau ini namanya mendzolimi diri sendiri dan saya tau ini dilarang. Tapi... ah, lagi dan lagi batin ini bertengkar. Sudah mumet, makin mumet.

Bukannya tidak bersyukur mempunyai teman. Tapi mereka punya urusan juga, dan belum tentu bisa mendengarkan keluh kesah manusia yang satu ini.

Entah sudah berapa lama saya semakin 'rusak' seperti ini. Dan entah sudah berapa lama juga saya tidak menceritakan hal-hal-yang-memang-seharusnya-diceritakan-daripada-dipendam-sendirian-ini kepada orang terpercaya. Oh iya, saya termasuk orang yang sulit menjelaskan sesuatu secara jelas, tertata, dan ringkas. Ini yang membuat saya minder karena saya takut orang lain tidak mengerti apa yang saya maksud.

Baiklah, sekian. Terima kasih, kamu yang sudah membaca. Selamat malam :)

5 Jul 2014

Terima Kasih, Sembilan Belas.


29 Juni 1995, 29 Juni 2014.
Sembilan belas tahun sudah diberi nafas oleh sang empu-Nya nafas.
Begitu banyak kejadian yang berlalu lalang, entah hanya sekedar datang atau datang lalu memberi pesan.
Begitu banyak senyum yang tercipta, pun air mata.
Begitu banyak kesalahan yang tercipta, pun penyesalan.
Sembilan belas tahun sudah berlumuran dosa. Ya Allah..

Sembilan belas tahun bukan umur jagung, pun belum bisa dibilang dewasa. Terus memperbaiki diri adalah tugasku sekarang. Bukan menghapus dosa yang lalu, hanya menambalnya dengan amalan baru. Menebus segala kesalahan dan berbagai penyesalan terdahulu. Masa di mana emosi ini terlalu meledak-ledak, masa di mana penyesuaian yang penuh penyesalan batin, masa di mana masih butuh banyak pengalaman untuk mengerti bahwa roda kehidupan terus berputar. Maafkan segala salah dan khilafku, teman..

Sembilan belas tahun sudah kepala ini merekam banyak momen indah. Bertemu dengan sosok yang ku panggil bunda.. bertemu dengan anduang (nenek), gaek (kakek) dan sanak saudara yang lainnya, bertemu dengan teman-sekaligus-inspirator-keren, bertemu dengan banyak orang yang datang lalu memberi pelajaran. Terima kasih, teman..

Sembilan belas tahun sudah kaki ini melangkah ke berbagai peristiwa berkesan dalam hidup. Entah berjalan menuju kebaikan, pun keburukan. Astaghfirullahaladzim..

Berbagai ucapan serta doa diberikan padaku pada hari itu. Sambil terus introspeksi, aku mengamininya.
Hari itu bertepatan dengan 1 Ramadan 1435 H, momen dimana orang-orang sangat menantikan datangnya bulan penuh rahmat. Senang rasanya, karena tidak semua orang dapat merasakan 'hari-nya' bertepatan dengan 1 Ramadan.
Begitu banyak doa yang terucap, begitu banyak pula kata aamiin yang ku ucap. Terima kasih, semua.. :')

***

Dari semuaaa teman-teman yang memberikan ucapan, ada beberapa yang unik. Jujur, doa doa ini bikin senyum-senyum sendiri.





dan ini pengucap yang pertama.. temen sebangku waktu kita sama sama survive di kelas 11 SMA. pernah ada konflik tapi akhirnya kita sama sama dewasa. dan gak disangka-sangka bakalan jadi orang pertama yang mendoakan :$


dengan seiringnya waktu berjalan dan doa-doa yang terus diucapkan oleh teman-teman semua, semoga Allah mendengar dan mengabulkannya. semoga semuanya juga mendapatkan apa-apa yang didoakannya untukku.
dan ini kutipan yang paling mengena yang diberikan Raudha sewaktu 29 Juni kemarin.

"Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal : tentang umurnya dalam apa yang ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa yang ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu)." (HR At-Tirmidzi)

terima kasih semua, jazakumullahu khairan katsiran.
terima kasih, sembilan belas.

**karena sibuk ujian akhir semester, maafkan saya atas postingan yang telat ini.