23 Agu 2014
Di sini tidak sama dengan di sana
Kemarin, kami bertemu. Mengurai rasa rindu yang sudah satu tahun kami pendam. Tapi ada yang ganjil saat mata itu bertemu. Aku melihat sesuatu yang aneh di situ. Aku melihat orang lain yang kini menjadi prioritasmu. Aku melihat sosok itu telah menjadi segalanya bagimu. Iya, aku tahu aku tergantikan.
Ternyata bukan hanya dari mata, tapi juga dari bahasa tubuhmu. Ia menggambarkan ketidaknyamanannya padaku. Aneh rasanya melihat sosok yang dulu sangat dekat, yang dulu jika kami harus berpisah harus-ada-momen-tangis tapi sekarang berpisahpun hanya dengan senyuman dan lambaian tangan kami tak apa. Dulu kami dekat. Dulu kami berbagi tawa setiap harinya. Dulu kami saling membantu satu sama lain. Dulu ia sering memberi tahuku mana yang benar dan salah. Iya, aku tahu itu dulu.
Berat rasanya ketika aku harus menghadapi bahwa semuanya telah berubah. Prioritasmu kini bukan hanya mengubah pandanganmu terhadap kamu sendiri, tapi juga aku. Aku yang kini tidak lagi bisa melihatmu dengan cara yang sama. Aku tahu aku harus berubah sama seperti halnya kamu memerlakukanku sekarang.
Semoga, suatu saat nanti rasa janggal pandanganku terhadap dirimu akan meleleh seiring berjalannya waktu. Tapi, hai, aku rindu pandangan mata itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar