22 Des 2013

Wanita Bajaku


Hari ini tanggal 22 Desember. Iya, hari ini hari Minggu. Tapi bukan itu maksud saya. Hari ini hari ibu se-Indonesia. Dari kecil saya diajarkan untuk memanggil ibu saya dengan panggilan Bunda.
Seharian ini segala sosial media penuh dengan segala hal tentang ibu. Mereka berlomba-lomba menaruh foto mereka dengan ibu mereka masing-masing. Jujur saja,  saya iri. Mengucapkan selamat hari ibu saja saya tidak. Tapi sayang tidak harus diucapkan dengan cara yang universal bukan?

Semua anak di dunia pasti mempunyai ibu yang paling ia banggakan. Sayapun begitu. Bunda orang yang paling hebat yang saya kenal. Dan juga ciptaan Tuhan yang paling tangguh yang saya tau.
Saya bangga mempunyai bunda yang bisa segala hal. Saya bangga memberi tahu semua orang bahwa sampai detik ini saya tidak pernah memotong rambut di salon, karena ibu saya yang selalu memotongnya. Saya bangga setiap membuka kotak bekal dan menemukan masakan rumahan hasil tangan bunda. Saya bangga memakai baju hasil jahitan bunda. Saya bangga dibuatkan kue ulang tahun di setiap pertambahan umur. Saya bangga mempunyai ibu yang pintar membuat dan membetulkan alat-alat rumah tangga sendirian. Dan juga bunda seperti peta Jakarta bagiku. Beliau tahu arah dan harus naik angkutan umum apa untuk mecapai suatu tempat. Bundaku luar biasa. Sangat sangat luar biasa.


Delapan belas tahun hidup bersama bunda bukan waktu yang sebentar. Tetapi juga tidak bisa dikatakan sebagai waktu yang lama.
Sosok ibu ibarat pensil warna pertama dalam kertas putihku. Dan tidak pernah ku bayangkan apa jadinya jika aku tanpa ibu. Hancur. Hampa. Tak terarah. Sosok ini sangat
Sosok yang membuat telepon genggamku berbunyi di kala jam pulangku terlambat dari biasanya. Sosok yang selalu ku lihat pertama kali di setiap hari aku membuka mata. Sosok yang rela bangun jam setengah empat pagi setiap harinya agar anaknya membawa bekal ke sekolah. Sosok yang tidak pernah letih memperhatikan setiap langkah ketika aku menginjakkan kaki di tempat yang salah.
Ingin rasanya memeluk, mencium, bermanja-manja dengannya setiap hari. Tapi kata yang saya sebut gengsi ini terlalu membelenggu. Gengsi atau malu? Entahlah. Tolong bantu aku mengalahkan rasa ini, Tuhan.

Seiring bertambah dewasa, kita semakin sibuk dengan segala kegiatan di luar rumah. Sehingga kita hampir lupa bahwa sosok ini ikut bertambah umur. Rambut-rambut putih beliau perlahan menunjukkan keberadaannya. Rutinitas begitu jahat telah merenggut waktu kami secara halus! Tolong jangan buat detik demi detik ini berlalu begitu cepat, Tuhan.


Beribu kata maaf rasanya tidak akan cukup untuk menebus segala kesalahan yang telah aku perbuat padanya. Beribu kata terima kasih tidak akan cukup untuk membalas segala pertolongan beliau dalam hidupku. Dan beribu kata "aku sayang bunda" tidak akan cukup untuk menunjukkan seberapa besar sayangku untuknya.
Tuhan, panjangkanlah umur bundaku, angkatlah segala penyakitnya, ringankanlah masalah dalam hidupnya, hapuslah air matanya, kuatkanlah hatinya, kokohkanlah dinding kesabarannya,  beri beliau seribu tahun lagi untuk menikmati indahnya dunia. Aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar