31 Des 2013

Ada Senyum di Balik Tangismu

Baiklah, post terakhir ini memang sengaja paling terakhir yang saya posting di penghujung tahun 2013. Isinya berupa kesimpulan terhadap diri sendiri.


Berhasil survive di tahun yang benar benar bukan tahunnya--kamu memang tidak mudah. Selama 2013 saya 'dipaksa' mengalah pada takdir mu'allaq. 'Dipaksa' berpisah dengan orang-orang hebat semasa SMA. 'Dipaksa' mengikhlaskan berbagai hal yang sangat sulit untuk diikhlaskan. Dan tentu saja 'dipaksa' meninggalkan hal-hal yang saya suka. Beberapa kejadian 'paksa' itu secara tidak langsung membuat saya perlahan dewasa--atau berubah ke sifat yang lebih baik lebih tepatnya. Tersadar bahwa Tuhan punya rencana lain yang mungkin lebih baik, namun harus menggeser rencana umat-Nya. Yah, manusia berencana namun Tuhan yang tetap berkehendak. Umat-Nya hanya bisa menerima dan mengikhlaskan apa apa rencananya yang tidak terlaksana.

Sebenarnya, segala hal yang terjadi tergantung dari pribadi masing-masing mau meletakkan point of view mereka di mana. Temasuk hal 'dipaksa' ini.
 “Life isn't finding shelter in the storm. It's about learning to dance in the rain.”
Sherrilyn Kenyon, Acheron
Iya, semuanya bergantung pada pilihan kita mau menikmati prosesnya atau hanya duduk pasrah sambil berkeluh kesah.

Kejadian selama 2013 banyak membuat perubahan dalam sifat saya pribadi. Meminimalisir keluhan dan belajar bersabar, contohnya. Perubahan sifat ini pun secara tidak langsung terjadi karena 'dipaksa' oleh keadaan yang banyak berubah. Dunia tak lagi sama. Begitu juga aku, kamu, kita, dan mereka, bukan?


365 hari ke belakang saya melewati hari demi hari yang penuh kejutan dan unpredictable. Saat dosen ngambek, contohnya. Atau pada saat macet waktu berangkat ke kampus, akhirnya gagal ikut Ujian Tengah Semester. Penyebabnya memang sepele, tapi pengaruhnya besar. Beberapa hal-hal kecil ini membuat saya berpikir bahwa kita--diri masing-masing lebih tepatnya--harus berpikir jauh ke depan tentang apa apa yang mungkin saja terjadi di setiap keadaan. Karena kita tidak pernah tau beberapa detik ke depan akan terjadi apa. Boleh ber-positive thinking, tapi tidak ada salahnya memikirkan efek atau hal buruk yang akan atau mungkin saja terjadi. Setidaknya, diri kita sudah siap ketika kemungkinan terburuk itu benar terjadi.
Memulainya bisa dengan hal-hal kecil. Berangkat ke kampus lebih pagi, misalnya. Atau mengerjakan tugas dari jauh-jauh hari sebelum deadline. Sehingga, ketika ada suatu hal terjadi di depan, diri kita sudah siap. Atau ketika kita sedang berharap akan sesuatu. Boleh berharap, tapi jangan sepenuhnya, takut kecewa nanti. Begitu kata para pejuang-universitas-negeri-tapi-tetap-tidak-dapat-di-negeri.

Baiklah, satu tahun terakhir ini sudah banyak kejadian yang merubah sifat buruk saya. Terima kasih kepada semuanya yang telah berkontribusi dalam perubahan sifat-sifat buruk ini. Semoga seiring berjalannya waktu, semakin banyak pula sifat yang berhasil di introspeksi. Yay!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar